BAB 1
PEBDAHULUAN
1.
LATAR BRLAKANG
Islam
mengalami puncak kejayaan di berbagai bidang dan menjadi kiblat peradaban seantero
dunia ketika sekitar tahun (1.500-1.800 M ) dimana pada saat itu ada 3 kerajaan
islam yang mengalami kejayaan seperti : kerajaan utsmani diturki, safawi di
Persia dan Mughal di india.. dan Punahnya kejayaan Islam terjadi antara tahun
(1.700-11.800 M ) dan dengan melemahnya kekuasaan islam dan bertambah besarnya
kekuatan bangsa barat membuat Napoleon Bonapatle berhasil menguasai Mesir pada
tahun 1798.
Ini merupakan momentum baru bagi sejarah umat
islam, khususnya di Mesir yang menyebabkanb bangkitnya kesdaran akan kelemahan dan
keterbelakangan mereka.Hal ini yang membuat para pemikir-pemikir Islam di Mesir
berusaha melakukan perubahan meninggalkan keterbelakangan mereka menuju kemajuan
di berbagai bidang.
2. RUMUSAN
MASALAH
1. Bagaimana awal mula pembaharuan di
mesir?
2. Siapa saja tokoh-tokoh pembaharuan
mesir ?
3. Apa saja ide/pemikiran dari
tokoh-tokoh tersebut ?
3. TUJUAN
1. Mengetahui lebih lanjut tentang
pembaharuan yang terjadi di mesir beserta tokoh-tokoh yang berjasa di dalamnya
2. Menambah wawasan/pengetahuan tentang
pembaharuan yang pernah terjadi di mesir
BAB ll
PEMBAHASAN
A.
Sejarah awal pembaharuan mesir
Reformasi Islam lahir pada akhir abad ke-19 sebagai
jawaban terhadap pengaruh dunia barat yang yang gencar menyerang kaum muslimin.
Sedangkan yang menjadi isu sentral mereka adalah upaya agar keyakinan agama
sesuai dengan pemikiran modern. Termasuk pula dalam hal ini tentunya, pemahaman
umat Islam terhadap Alquran.
Kesadaran akan perlunya diadakan pembaharuan timbul
pertama kali salah satunya di Mesir. Pembaharuan yang terjadi di Mesir terjadi
sejak terjadinya kontak dengan Eropa yang dimulai dari datangnya ekspedisi
Napoleon Bonaparte yang mendarat di Aleksandria pada tahun 1798 M. Kedatangan
Napoleon ini juga membawa banyak oleh-oleh dari Eropa yang berupa ilmu
pengetahuan, kebudayaan dan teknologi, hingga ia mampu mendirikan lembaga
ilmiah Institut d’Egypte. Di samping itu Napoleon juga mempunyai hubungan baik
dengan ulama-ulama Al-Azhar. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu
terjadinya pembaharuan dalam Islam di Mesir. [1]
Berbicara tentang proses pembaharuan di Mesir, di kenal
beberapa orang tokoh pembaharu yaitu : Muhammad ali pasha, al-tahtawi, Jamaluddin
al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dan murid-murid Muhammad abduh.
B.
Tokoh dan Ide-Ide Pembaharuannya
A.
Muhammad Ali
Pasya
Lahir pada
tahun 1765 ia merupakan seorang keturunan Turki yang lahir di Kawalla. Ali
menjadi perwira untuk melawan tentara Napoleon yang telah menguasai Mesir.
Meski Ali menjadi perwira akan tetapi Ia belum pernah mempunyai kesempatan
untuk mengenyam pendidikan sekolah, sehingga Ali kurang pandai dalam menulis
dan membaca, karena pada masa kecilnya dia sudah harus membantu orang tuanya
untuk bekerja sebagai penjual rokok.
Setelah dewasa
ia bekerja sebagai pemungut pajak dan karena kecakapannya dalam pekerjaan ini,
ia menjadi kesayangan Gubernur Usmani setempat. Akhirnya is diangkat sebagai
menantu oleh Gubernur, mulai dari waktu itu bintangnya terus menaik.
Selanjutnya ia masuk dinas militer dan dalam lapangan ini ia juga menunjukan
kecakapan dan kesanggupan, sehingga pangkatnya cepat naik menjadi Perwira.
Kehebatan Ali terlihat ketika mengusir tentara Perancis, karena keberaniannya
itu ia diangkat menjadi Kolonel. Pasukan perancis bisa dikeluarkan dari Mesir
pada tahun 1801. Dari sinilah Muhammad Ali mulai terjun ke dunia politik.
Karena politik yang selama ini dikuasai oleh orang Perancis telah takluk
dibawah kekuasaan Ali.
Pada tahun 1805 Muhamad Ali berhasil mengadu domba antara
kaum Mamluk dengan tentara Usmani, akhirnya pasya menyerah dan dapat dipaksa
kembali ke Istambul, pada saat ini juga dengan terpaksa Sultan Usmani mengakui
Muhammad Ali sebagai Pasya. Setelah menduduki kekuasaan di Mesir, Muhammad Ali mulai
memusnahkan pihak-pihak yang menentang kekuasaannya,
khususnya kaum Mamluk.Ali mendapat kesempatan untuk
memusnahkan kaum Mamluk, kesempatan ini terjadi ketika kaum Mamluk mempunyai konspirasi jahat
terhadap Ali itu ketahuan oleh Ali, sehingga banyak dari pemimpin-pemimpin Mamluk
yang ditangkap dan dibunuh, Ali seolah-olah memaafkan kaum Mamluk yang lainnya dengan
cara mengundang mereka semua untuk berpesta di istana Ali di bukit Mukatam.
Setelah semua orang masuk dalam istana, pintu-pintu dikunci dan dimulailah
pembunuhan masal kaum Mamluk yang dilakukan oleh
Muhammad Ali. Menurut cerita, penduduk Mamluk yang berjumlah 470 jiwa
ini tewas semua yang tersisa hanya satu orang yang berhasil lolos melompat
keluar istana, dengan kejadian ini pada tahun 1811 kekuatan Mamluk di Mesir
telah musnah.Ali mulai bertindak sebagai diktator tatkala ia berkuasa sebagai
Wakil Sultan di Mesir, sementara rakyatnya tidak berdaya karena tidak mempunyai
kekuatan serta organisasi yang kuat untuk melawan dan menentang kekuasaan Ali.
Muhammad Ali mulai memperkuat kekuasaanya dengan cara
memajukan di bidang Militer dan Ekonomi, ia yakin bahwa dibelakang kekuatan
Militer ada kekuatan yang mendukung yaitu kekuatan ekonomi,
kekuatan ekonomi yang dapat membelanjai pembaharuan dalam
bidang Militer.
Meski Ali seseorang yang buta huruf, akan tetapi ia
mengerti akan arti pendidikan dan arti ilmu pengetahuan untuk kemajuan suatu
negara. Terbukti dengan pahamnya Ali akan pentingnnya pendidikan dan
pengetahuan ia mendirikan Kementrian Pendidikan. Muhammad Ali seorang yang pertama di Mesir membuka
sekolah, sekolah yang dibangun diantaranya :
1. Sekolah Militer pada tahun 1815
2.
Sekolah
Tehnik pada tahun 1816
3.
Sekolah
Kedokteran pada tahun 1827
4.
Sekolah
Obat-obatan pada tahun 1829
5.
Sekolah
Pertambangan pada tahun 1834
6.
Sekolah
Pertanian pada tahun 1836
7. Sekolah Penerjemahan pada tahun 1836.
Demi kemajuan
dalam bidang pendidikan tersebut, Muhammad Ali langsung mendatangkan
orang-orang ahli dari Eropa sebagai guru, mendatangkan penerjemah Arab dan
Turki karena ia sendiri tidak mampu berbahasa Arab, semua ceramah-ceramah diterjemahkan
oleh orang-orang Ahli. Selain banyak mendatangkan Guru dari Eropa, ia juga
mengirim siswa-siswa untuk belajar disana. Menurut statistik diantara tahun
1813, dan tahun 1849, ia mengirim 311 pelajar Mesir ke Itali, Perancis,
Inggris, dan Austria.
Di Paris
didirikan satu rumah Mesir untuk menampung pelajar-pelajar itu. Yang
dipentingkan dari Muhammad Ali terhadap siswa-siswa yang
dikirim belajar ke luar ialah ilmu-ilmu kemiliteran darat dan laut, arsitek,
kedokteran, dan obat-obatan. Semua ilmu ini dekat hubungannya dengan soal kemiliteran.Mahasiswa-mahasiswa
yang dikirim ke Eropa juga dilarang untuk mempelajari Ilmu Politik, ia tak
ingin orang-orang yang dikirimnya ke Eropa menyelami apa yang lebih dari apa
yang perlu baginya, mahasiswa dibawah pengawasan yang ekstra ketat, mereka
tak diberi kemerdekaan bergerak di Eropa.
Ide-ide baru muncul mengenai tentang demokrasi, parlemen, pemilihan wakil rakyat, paham pemerintahan republik, konstitusi, kemerdekaan berpikir, dinamisme barat diperbandingkan dengan sikap statis timur, cinta tanah air (patriotisme), keadilan sosial dan sebagainya, ini semua karena mahasiswa telah mengetahui bahasa Eropa, terutama bahasa Perancis dan dengan membaca karangan-karangan Voltaire, Rousseau, Montesquieu dan lain-lain. Memang pada dasarnya ide-ide dan ilmu hanya terbatas kepada mahasiswa yang dikirim ke Eropa, akan tetapi faham-faham ini mulai menjalar ke masyarakat karena adanya terjemahan-terjemahan buku barat ke dalam bahasa Arab, sehingga masyarakat pun mengalami kemajuan.
Ide-ide baru muncul mengenai tentang demokrasi, parlemen, pemilihan wakil rakyat, paham pemerintahan republik, konstitusi, kemerdekaan berpikir, dinamisme barat diperbandingkan dengan sikap statis timur, cinta tanah air (patriotisme), keadilan sosial dan sebagainya, ini semua karena mahasiswa telah mengetahui bahasa Eropa, terutama bahasa Perancis dan dengan membaca karangan-karangan Voltaire, Rousseau, Montesquieu dan lain-lain. Memang pada dasarnya ide-ide dan ilmu hanya terbatas kepada mahasiswa yang dikirim ke Eropa, akan tetapi faham-faham ini mulai menjalar ke masyarakat karena adanya terjemahan-terjemahan buku barat ke dalam bahasa Arab, sehingga masyarakat pun mengalami kemajuan.
Penerjemahan
buku-buku mulai berjalan lancar setelah didirikan sekolah penerjemahan pada
tahun 1836. Sekolah ini beberapa tahun kemudian diserahkan kepada Pimpinan
Rifa’ah Al-Tahtawi, seorang ulama Azhar yang pernah belajar di Paris dan
kemudian ada pengaruhnya dalam penyiaran ide-ide Barat di Mesir.
Meski sistem
yang diterapkan Ali memakai kediktatoran dengan cara menbinasakan kaum Mamluk,
tetapi dia mampu mengembangkan sector pendidikan serta
kemiliteran terbukti dia mampu membangun sekolah-sekolah serta mampu mengubah pola
pikir masyarakat. Masyarakat pada zaman kekuasaan Ali dapat mengetahui perkembangan yang ada
di Negara tetangga karena sudah banyak terjemahan bahasa yang sudah dapat dikonsumsi
oleh masyarakat, ini semua tak lepas dari campur tangan Ali dengan cara mengirimkan warganya
untuk belajar di negara-negara Eropa, maka bisa dikatakan umat Islam pada masa kekuaasaan
Muhamad Ali mengalami perubahan yang begitu
berarti
dalam pembahruan islam.[2]
B. Al – Tahtawi
Rifa’ah Badawi
Rafi’ al-Tahtawi adalah pembawa pemikiran pembaharuan yang besar pengaruhnya di
pertengahan pertama dari abad ke sembilan belas di Mesir. Dalam gerakan
pembaharuan Muhammad Ali Pasya, at-Tahtawi turut memainkan peranan.
Ia lahir pada tahun 1801 di Tahta, suatu kota yang terletak di Mesir bagian selatan, dan meninggal di Cairo pada tahun 1873. Ketika Muhammad Ali mengambil alih seluruh kekayaan yang dikuasai itu, ia terpaksa belajar di masa kecilnya dengan bantuan dari keluarga ibunya. Ketika berumur 16 tahun ia pergi ke Cairo untuk belajar di al-Azhar. Setelah lima tahun menuntut ilmu ia selesai dari studinya di al-Azhar pada tahun 1922
Ia lahir pada tahun 1801 di Tahta, suatu kota yang terletak di Mesir bagian selatan, dan meninggal di Cairo pada tahun 1873. Ketika Muhammad Ali mengambil alih seluruh kekayaan yang dikuasai itu, ia terpaksa belajar di masa kecilnya dengan bantuan dari keluarga ibunya. Ketika berumur 16 tahun ia pergi ke Cairo untuk belajar di al-Azhar. Setelah lima tahun menuntut ilmu ia selesai dari studinya di al-Azhar pada tahun 1922
Ia
adalah murid kesayangan dari gurunya Syaikh Hasan al-‘Atthar yang banyak mempunyai
hubungan dengan ahli-ahli ilmu pengetahuan Prancis yang datang dengan Napoleon
ke Mesir. Syaikh Al-Attar melihat bahwa Tahtawi adalah seorang pelajar yang
sungguh-sungguh dan tajam pikirannya, dan oleh karena itu ia selalu memberi
dorongan kepadanya untuk senantiasa menambah ilmu pengetahuan. Setelah selesai
dari study di Al-Azhar, Al-Tahtawi mengajar disana selama dua tahun, kemudian
diangkat menjadi imam tentara di tahun 1824. Dua tahun kemudian dia diangkat
menjadi imam mahasiswa-mahasiswa yang dikirim Muhammad Ali ke Paris . Disamping
tugasnya sebagai imam ia turut pula belajar bahasa Prancis sewaktu ia masih
dalam perjalanan ke Paris.
Dengan
adanya pengiriman mahasiswa ke Prancis maka lahirlah tokoh-tokoh mahasiswa yang
brilian seperti Al Tahtawi yang pandai bahasa Prancis kemudian ditunjuk menjadi
pimpinan dalam penerjemahan buku-buku teknik dan kemiliteran. Kemudian pada
Tahun 1836 didirikan sekolah penerjemahan yang kemudian dirubah menjadi sekolah
bahasa-bahasa asing. Al Tahtawi tugasnya mengoreksi buku-buku yang
diterjemahkan murid-murid nya yang menghasilkan hampir seribu buah buku yang
diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
Selain
sebagai pemimpin dalam penerjemahan buku-buku asing, Al Tahtawi menerbitkan
surat kabar resmi yang diberi nama Al-Waqa-i ‘Ul-Mishriyah yang memuat
berita-berita tentang kemajuan Barat termasuk teori-teori politik yang
didasarkan kepada keadilan dan kerakyatan. Al-Tahtawi juga mengarang buku-buku
dalam penyebaran pengetahuan modern kepada khalayak ramai. Diantara beberapa
buku terpentingnya: Taukhlisul Ibriz fi talkhishi Bariz ( intisari dan
kesimpulan tentang Paris), Manahijul albab al-Mishriyah fi manahijil adab
al-“ashriyah ( Jalan bagi orang Mesir untuk mengetahui Literatur Modern), dan
buku Al-Mursyidul Amin lil Banati wa al-Banin (petunjuk bagi Pendidikan
putra-dan puteri), buku Al Qaul as Sadid fi al Ijtihadi wa al-Taqlid (perkataan
yang benar tentang Ijtihad dan Taqlid). Pemikiran al-Tahtawi ini belum
seradikal tokoh-tokoh setelahnya, seperti pendidikan puteri hanya dilakukan di
rumah, menyekolahkan wanita masih dihukum makruh, sedangkan ulama harus
mengetahui ilmu modern agar dapat menyesuaikan syariat dengan kebutuhan modern,
yang pada konsekuensinya mengandung arti ijtihad masih terbuka, akan tetapi
belum berani dijelaskan secara terang-terangan karena masih dianggap radikal
pada saat itu.
Tahtawi
tinggal di Prancis selama lima tahun. Sekembalinya ke Mesir, ia menuliskan
pengalaman hidupnya selama berada di Paris dalam sebuah buku yang kemudian
menjadi salah satu sumber penting sejarah pemikiran modern dalam Islam. Yakni,
Takhlis al-Ibriz ila Talkhis Bariz. Dalam buku ini, Tahtawi memuji pencapaian
yang dilakukan negara-negara Eropa, khususnya Prancis. Ia menggambarkan kondisi
Prancis yang bersih, anak-anak yang sehat, orang-orang yang sibuk bekerja,
semangat belajar yang terpancar dari wajah kaum mudanya, dan
kelebihan-kelebihan lainnya yang ia saksikan selama berada di Prancis
Begitu
menginjakkan kakinya di bumi Mesir, Tahtawi bertekad untuk memajukan tanah airnya.
Memori Prancis dengan segala keindahan dan kedisiplinan warganya selalu menjadi
obsesinya. Bukunya, Takhlis, yang diterbitkan hanya beberapa bulan setelah
kedatangannya di Mesir adalah salah satu bukti dari tekadnya yang begitu kuat
untuk meng-Eropakan Mesir. Di Kairo, ia mendirikan lembaga penerjemahan yang
disebut Sekolah Bahasa. Lembaga ini mirip dengan fungsi Bayt al-Hikmat
pada masa-masa awal kerajaan Abbasiyyah. Thahthawi sendiri menerjemahkan
sekitar 20 buku berbahasa Prancis dan mengedit puluhan karya terjemahan
lainnya.
Sebagian
besar buku-buku yang disupervisinya adalah buku-buku sejarah, filsafat, dan
ilmu kemiliteran. Buku penting yang diterjemahkannya sendiri adalah
Considerations sur les Causes de la Grandeur des Romains et de leur Decadence
karya filsuf Prancis Montesquieu.Dalam hal agama dan peranan ulama, al-Tahtawi
menghendaki agar para ulama selalu mengikuti perkembangan dunia modern dan
mempelajari berbagai ilmu pengetahuan modern.[3]
C.
Jamaluddin Al-Ghfani
Jamaludin al-Afghani adalah seorang pemimpin pembaharuan yang
tempat tinggal dan aktifitasnya berpindah-pindah dari satu negara ke negara
Islam lainya pengaruh terbesar yang ditinggalkannya adalah di Mesir, oleh
karena itu uraian mengenai pemikiran dan aktivitasnya dimasukkan kedalam bagian
tentang pembaharuan di dunia Arab. Jamaludin al-Afghani lahir di Afghanistan
pada tahun 1839 M. dan meninggal dunia pada tahun 1897 M. Dalam silsilah
keturunannya al-afghani adalah keturunan Nabi melalui Sayyidina Ali ra. Ketika
baru berusia duapuluh dua tahun ia telah menjadi pembantu bagi pangeran Dost
Muhammad Khan di Afghanistan. Di tahun 1864 ia menjadi penasehat Sher Ali Khan.
Beberapa tahun kemudian ia diangkat oleh Muhammad A’zam Khan menjadi Perdana
Menteri. Kemudian al-Afghani merasa lebih aman apabila meninggalkan tanah
tempat lahirnya dan pergi ke India di tahun 1869. tetapi di India dia juga
merasa tidak bebas untuk bergerak karena negara ini telah jatuh ke bawah
kekuasaan Inggris, oleh karena itu ia pindah ke Mesir di tahun 1871. Ia menetap
di Kairo, pada mulanya menjauhi persoalan-persoalan politik Mesir dan
memusatkan perhatian pada bidang ilmiah dan sastra Arab. Tetapi ia
tidak lama dapat meninggalkan lapangan politik. Di tahun 1876 turut campur
tangan Inggris dalam soal politik di Mesir makin meningkat. Ketika itu ide-ide
al-Tahtawi sudah mulai meluas di kalangan masyarakat Mesir, diantaranya ide
trias politica dan patriotisme, maka pada tahun 1879 atas usaha Al- Afghani
terbentuklah partai Al-Hizb al-Watani (partai nasional). Tujuan partai ini
untuk memperjuangkan pendidikan universal dan kemerdekaan pers. Atas sokongan
partai ini al-Afghani berusaha menggulingkan Raja Mesir yang berkuasa waktu
itu, yakni Khedewi Ismail. Masa delapan tahun menetap di Mesir itu mempunyai
pengaruh yang tidak kecil bagi umat Islam disana menurut M.S. Madkur,
al-Afghanilah yang membangkitkan gerakan berpikir di Mesir sehingga negara ini
dapat mencapai kemajuan. “Mesir modern,”
Selama
di Mesir al-Afghani mengajukan konsep-konsep pembaharuannya, antara lain:
1. Musuh utama adalah penjajahan (Barat), hal ini tidak lain
dari lanjutan perang Salib.
2. Ummat Islam harus menantang penjajahan dimana dan kapan saja.
3. Untuk mencapai tujuan itu ummat Islam harus bersatu (Pan
Islamisme).
Pan Islamisme bukan berarti leburnya kerajaan-kerajaan Islam menjadi satu, tetapi mereka harus mempunyai satu pandangan bersatu dalam kerja sama. Persatuan dan kerja sama merupakan sendi yang amat penting dalam Islam.
Pan Islamisme bukan berarti leburnya kerajaan-kerajaan Islam menjadi satu, tetapi mereka harus mempunyai satu pandangan bersatu dalam kerja sama. Persatuan dan kerja sama merupakan sendi yang amat penting dalam Islam.
Dan Untuk mencapai usaha-usaha pembaharuan tersebut di atas, oerluh di lakukan beberapa hal penting di antaranya:
1. Rakyat harus dibersihkan dari kepercayaan ketakhayulan.
2. Orang harus yakin bahwa ia dapat mencapai tingkat atau
derajat budi luhur.
3. Rukun Iman harus betul-betul menjadi pandangan hidup, dan
kehidupan manusia bukan sekedar ikutan belaka.
4. Setiap generasi ummat harus ada lapisan istimewa untuk
memberikan pengajaran dan pendidikan pada manusia-manusia bodoh dan juga
memerangi hawa nafsu jahat dan disiplin.
Selama delapan tahun menetap di Mesir ia pergi ke Paris,
disini ia mendirikan perkumpulan “Al-Urwatul Wusqa” yang anggotanya terdiri
dari orang-orang Islam dan India, Mesir, Suria, Afrika Utara dan lain-lain.
Diantara tujuan yang ingin dicapai ialah memperkuat rasa persaudaraan Islam,
membela Islam dan membawa Islam kepada kemajuan. Kemudian di Paris inilah ia
bertemu dengan muridnya yang setia yaitu Muhammad Abduh dan kemudian ia kembali
keIstambul, sampai akhir hayatnya.[4]
D.
Muhammad Abduh
Muhammad Abduh lahir di desa Mahillah di Mesir Hilir, ibu
bapaknya adalah orang biasa yang tidak mementingkan tanggal dan tempat lahir
anak-anaknya. Ia lahir pada tahun 1849, tetapi ada yang mengatakan bahwa ia
lahir sebelum tahun itu, tetapi sekitar tahun 1845 dan beliau wafat pada tahun
1905. Ayahnya bernama Abduh ibn Hasan Khairillah, silsilah keturunan dengan
bangsa Turki, dan ibunya mempunyai keturunan dengan Umar bin Khatab, khalifah
kedua (khulafaurrasyidin).Orang tuanya sangat memperhatikan pendidikannya, pada
tahun1862 ia dikirim oleh ayahnya ke perguruan agama di mesjid Ahmadi yang
terletak di desa Tanta . Hanya dalam waktu enam bulan ia berhenti karena tidak
mengerti apa yang diajarkan gurunya. Setelah belajar di Tanta pada tahun 1866
ia meneruskan ke perguruan tinggi di Al-Azhar di Kairo, disinilah ia bertemu
dengan Jamaludin al-Afghani dan kemudian ia belajar filsafat di bawah bimbingan
Afghani, di masa inilah ia mulai membuat karangan untuk harian al-Ahram yang
pada saat itu baru didirikan. Pada tahun 1877 studinya selesai di al-Azhar
dengan hasil yang sangat baik dan mendapat gelar Alim. Kemudian ia diangkat
menjadi dosen al-Azhar disamping itu ia mengajar di Universitas Darul Ulum. Dalam peristiwa
pemberontakan Urabi Pasya (1882) Muhammad Abduh ikut terlibat didalamnya, sehingga
ketika pemberontakan berakhir, ia diusir dari Mesir. Dalam pembuangannya ia
memilih di Syiria ( Beirut ) di sini ia mendapat kesempatan mengajar pada
perguruan tinggi Sultaniah, kurang lebih satu tahun lamanya. Kemudian ia pergi
ke Paris atas panggilan Sayyid Jamaludin al-Afghani, yang pada waktu itu tahun
1884 sudah berada disana. Muhammad Abduh kebetulan diperkenankan pulang ke
Mesir, sedang Jamaluddin mengembara di Eropa kemudian terus ke Moskow. Di
Mesir Muhammad Abduh diserahi jabatan Mufti Mesir, disamping itu ia diangkat
menjadi anggota Majelis Perwakilan (Legilative Council), Muhammad Abduh pernah
juga di serahi jabatan hakim Mahkamah, dan di dalam tugas ini ia dikenal
sebagai seorang Hakim yang adil
Pokok-pokok
pikiran Muhammad Abduh dapat disimpulkan dalam empat aspek, yaitu:
1. aspek kebebasan, antara lain; dalam usaha memperjuangkan
cita-cita pembaharuannya, MuhammadAbduh memperkecil ruang lingkupnya, yaitu
Nasionalisme Arab saja dan menitikberatkan pada pendidikan.
2. aspek kemasyarakatan, antara lain usaha-usaha pendidikan
perlu diarahkan untuk mencintai dirinya, masyarakat dan negaranya. Dasar-dasar
pendidikan seperti itu akan membawa kepada seseorang untuk mengetahui siapa dia
dan siapa yang menyertainya.
3. aspek keagamaan, dalam masalah in Muhammad Abduh tidak
menghendaki adanya taqlid, guna memenuhi tuntutan ini pintu ijtihad selalu
terbuka
4. aspek pendidikan antara lain, al-Azhar mendapatkan perhatian
perbaikan, demikian juga bahasa Arab dan pendidikan pada umumnya cukup mendapat
perhatiannya.
Menurut Muhammad Abduh bahasa Arab perlu dihidupkan dan untuk itu metodenya perlu diperbaiki dan ini ada kaitannya dengan metode pendidikan. System menghafal diluar kepala perlu diganti dengan system penguasaan dan penghayatan materi yang dipelajari.
Menurut Muhammad Abduh bahasa Arab perlu dihidupkan dan untuk itu metodenya perlu diperbaiki dan ini ada kaitannya dengan metode pendidikan. System menghafal diluar kepala perlu diganti dengan system penguasaan dan penghayatan materi yang dipelajari.
Pemikiran
pembaharuan tersebut dilakukan dalam rangka membangkitkan kembali dunia Islam
agar ia dapat berkembang dalam aktualisasi dunia yang sangat cepat dan
aplikatif tersebut. Secara khusus bahwa program pembaharuan Muhammad Abduh
mempunyai 3 tujuan utama, yaitu :
1. membebaskan
akal manusia dari rutinitas yang membosankan,
2. manusia
Islam dari budaya imitasi (meniru) yang cenderung mencerabut rasa kebanggaan
diri dan kemampuan aktualisasi diri.
3. membebaskan
manusia muslim dari kemandegan berfikir (Stagnasi Intelektual).[5]
E.
Rasyid
Ridha
Sosok
intelektual satu ini bernama lengkap Muhammad Rasyid bin Ali Ridha bin
Syamsuddin bin Bahauddin Al-Qalmuni Al-Husaini. Namun, dunia Islam lebih
mengenalnya dengan nama Muhammad Rasyid Ridha. Ia lahir di daerah Qalamun
(sebuah desa yang tidak jauh dari Kota Tripoli,Lebanon)pada 27Jumadil Awal 1282
H atau 865 M. Muhammad
Rasyid Ridha dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga terhormat dan
taat beragama. Dalam sebuah sumber dikatakan bahwa Rasyid Ridha masih memiliki
pertalian darah dengan Husin bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad
SAW.
Rasyid
Ridha adalah seorang intelektual muslim dari Suriah yang mengembangkan gagasan
modernisme Islam yang awalnya digagas oleh Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad
Abduh. Ridha mempelajari kelemahan-kelemahan masyarakat muslim saat itu,
dibandingkan masyarakat kolonialis Barat, dan menyimpulkan bahwa kelemahan
tersebut antara lain kecenderungan umat untuk mengikuti tradisi secara buta
(taqlid), minat yang berlebihan terhadap dunia sufi dan kemandegan pemikiran
ulama yang mengakibatkan timbulnya kegagalan dalam mencapai kemajuan di bidang
sains dan teknologi.
Ia
berpendapat bahwa kelemahan ini dapat diatasi dengan kembali ke prinsip-prinsip
dasar Islam dan melakukan ijtihad dalam menghadapi realita modern.
Selain
menekuni pelajaran di sekolah tempat ia menimba ilmu, Rasyid Ridha juga rajin
mengikuti beberapa perkembangan dunia Islam melalui surat kabar Al-Urwah
Al-Wusqo (sebuah surat kabar berbahasa Arab yang dikelola oleh Jamaluddin
Al-Afghani dan Muhammad Abduh, dan diterbitkan selama masa pengasingan mereka
di Paris). Melalui surat kabar ini, Rasyid Ridha mengenal gagasan dua tokoh
pembaru yang sangat dikaguminya, yaitu Jamaluddin Al-Afghani, seorang pemimpin
pembaru dari Afghanistan, dan Muhammad Abduh, seorang pembaru dari Mesir.
Ide-ide brilian yang dipublikasikan itu begitu berkesan dalam dirinya dan
menimbulkan keinginan kuat untuk bergabung dan berguru pada kedua tokoh itu.
Keinginan untuk bertemu dengan Al-Afghani ternyata belum tercapai, karena tokoh
ini lebih dahulu meninggal dunia. Namun, ketika Muhammad Abduh ke Beirut,
Rasyid Ridha berkesempatan berdialog serta saling bertukar ide dengan Abduh.
Pertemuan dan dialog dengan Muhammad Abduh semakin menumbuhkan semangat juang
dalam dirinya untuk melepaskan umat Islam dari belenggu keterbelakangan dan
kebodohannya. Rasyid ridha meyakini kebenaran gerakan Salafiyah yang dipelopori
oleh Afghani dan Abduh, dan menariknya sedikit demi sedikit dari ajaran tasawuf
tradisional.
Salafiyah
adalah suatu aliran keagamaan yang berpendirian bahwa untuk dapat memulihkan
kejayaan umat islam harus kembali kepada ajaran Islam yang masih murni seperti
yang dulu diamalkan oleh generassi Islam yang pertama, yang biasa juga disebut
salaf (pendahulu) yang saleh.
Di
Lebanon, Rasyid Ridha mencoba menerapkan ide-ide pembaruan yang diperolehnya.
Namun, upayanya ini mendapat tentangan dan tekanan politik dari Kerajaan Turki
Usmani yang tidak menerima ide-ide pembaharuan yang dilontarkannya. Akibat
semakin besarnya tentangan itu, akhirnya pada 1898, Rasyid Ridha pindah ke
Mesir mengikuti gurunya, Muhammad Abduh, yang telah lama tinggal di sana.
Al-Manar
adalah majalah mingguan yang diasuh oleh Ridha dan abduh. Antara lain,
menyebarkan ide-ide pembaharuan dalam bidang agama, sosial, dan ekonomi,
memajukan umat Islam dan menjernihkan ajaran Islam dari segala paham yang
menyimpang, serta membangkitkan semangat persatuan umat Islam dalam menghadapi
berbagai intervensi dari luar. Dalam perjalanannya majalah ini banyak mendapat
sambutan, karena ide-ide pembaharuan yang dilontarkan dalam setiap
tulisannya.
Setelah
menerbitkan majalah Al-Manar, Rasyid Ridha juga masih sangat aktif menulis dan
mengarang berbagai buku dan kitab. Dia sempat mengajukan saran kepada gurunya
agar menafsirkan kitab suci Alquran dengan penafsiran yang relevan dengan
perkembangan zaman. Melalui kuliah tafsir yang rutin dilakukan di Universitas
Al-Azhar, Rasyid Ridha selalu mencatat ide-ide pembaharuan yang muncul dalam
kuliah yang diberikan Muhammad Abduh. Selanjutnya, catatan-catatan itu disusun
secara sistematis dan diserahkan kepada sang guru untuk diperiksa kembali.
Selesai diperiksa dan mendapat pengesahan, barulah tulisan itu diterbitkan
dalam majalah Al-Manar. Kumpulan tulisan mengenai tafsir yang termuat dalam
majalah Al-Manar inilah yang kemudian dibukukan menjadi tafsir Al-Manar.
Pengajaran tafsir yang dilakukan Muhammad Abduh ini hanya sampai pada surah
An-Nisa ayat 125, dan merupakan jilid ketiga dari seluruh Tafsir Al-Manar. Hal
ini dikarenakan Muhammad Abduh telah dipanggil kehadirat Allah SWT pada 1905,
sebelum menyelesaikan penafsiran seluruh isi Alquran. Maka, untuk melengkapi
tafsir tersebut, Rasyid Ridha melanjutkan kajian tafsir sang guru hingga
selesai.
Karya-karya
yang dihasilkan semasa hidup Rasyid Ridha pun cukup banyak. Antara lain, Tarikh
Al-Ustadz Al-Imama Asy-Syaikh Abduh (Sejarah Hidup Imam Syaikh Muhammad Abduh),
Nida Li Al-Jins Al-Latif (Panggilan terhadap Kaum Wanita), Al-Wahyu Muhammad
(Wahyu Allah yang diturunkan kepada Muhammad SAW), Yusr Al-Islam wa Usul
At-Tasyri Al-Am (Kemudahan Agama Islam dan dasar-dasar umum penetapan hukum
Islam), Al-Khilafah wa Al-Imamah Al-Uzma (Kekhalifahan dan Imam-imam besar),
Muhawarah Al-Muslih wa Al-Muqallid (dialog antara kaum pembaharu dan konservatif),
Zikra Al-Maulid An-Nabawiy (Peringatan Kelahiran Nabi Muhammad saw),dan haquq
al-mar’ah as-shalihah (hak-hak wanita muslimah). [6]
1. Qasim Amin
Qasim
Amin adalah seorang ahli hukum yang belajar di prancis dan mempunyai hubungan
persahabatan yang erat dengan Muhammad Abduh, sehingga beliau di katakan murid
dan pengikut Muhammad Abduh karena sempat bergaul dan belajar bersama. Di sini
terdapat perbedaan antara guru dan murid, Muhammad Abduh masih terikat pada
masa lampau dan memandang peradaban islam di zaman klasik sebagai contoh yang
harus ditiru, sedangkan Qasim Amin telah mulai melepaskan diri dari ikatan masa
lampau dan lebih banyak menoleh ke masa depan. Di sanalah terletak peradaban
islam baru yang dasarnya berbeda dengan dasar peradaban islam klasik. Kalau
Rasyid Rida tidak seliberal guru. Qasim Amin sebaliknya melampaui guru dalam
keliberalan. Pemikiran Qasim Amin salah satunya ialah mengenai kedudukan
wanita, ide inilah yang di kupas Qasim Amin dalam bukunya Tahrir Al-Mar’ah
(”Emansipasi Wanita). Menurut pendapatnya, umat islam mundur karena kaum
wanita, yang di mesir merupakan setengah dari pendududk , tidak pernah
memperoleh pendidikan sekolah. Pendidikan wanita perlu, bukan hanya agar mereka
dapat mengatur rumah tangga dengan baik, tetapi lebih dari itu untuk dapat
memberikan didikan dasar bagi anak-anak. Ia menantang pilihan sepihak, yaitu
dari pihak pria dalam soal perkawinan, menurut pendapatnya, wanita harus di
beri hak yang sama dengan pria dalam memilih jodoh.
Oleh karena itu ia menuntut supaya istri
diberi hak cerai, sungguhpun poligami di sebut dalam Al-Qur’an ia berpendapat
bahwa islam pada hakikatnya menganjurkan monogami. Ide Qasim Amin yang banyak
menimbulkan reaksi di zamannya ialah pendapat bahwa penutupan wajah wanita dan
pemisahan wanita dalam pergaulan bukanlah Ajaran Islam karna tidak terdapat
dalam Al-Qur’an dan Hadits. Menurut pendapatnyapenutupan wajah dan pemisahan wanita
membawa kepada kedudukan rendah dan menghambat kebebasan dan pengembangan
daya-daya mereka untuk mencapai kesempurnaan. Dari berbagai pihak berdatangan
kritik dan protes terhadap ide-ide yang di kemukakan Qasim Amin itu sehingga ia
melihat perlu memberi jawaban yang keluar dalam bentuk buku bernama Al-Mar’ah
Al-Jadidah (”wanita modern”) dalam buku itu ia lebih kuat lagi mempertahankan
kebebasan wanita. Barat memang telah mencapai peradaban yang tinggi, dan ini di
dasarkan atas kemajuan ilmu pengetahuan. Peradaban yang didirikan umat islam di
zaman klasik tidak di dasarkan atas ilmu pengetahuan yang telah berkembang,
karena ilmu pengetahuan modern belum lahir di waktu itu. Menurutnya peradaban
islam yang lampau itu tidak dapat lagi dipakai sebagai model, untuk kemajuan
umat islam seharusnya jangan lagi menoleh ke belakang, tetapi ke depan dengan
menempuh jalan yang telah di tempuh barat yaitu ilmu pengetahuan modern
2. Muhammad Farid Wajdi
Muhammad
Farid Wajdi adalah seseorang yang banyak membaca dan banyak mengarang untuk
membela islam terhadap serangan-serangan dari luar, salah satu bukunya bernama
Al-Madaniah Wa Al-Islam (”peradaban modern dan islam”) dan di dalamnya ia
menjelaskan bahwa orang barat menilai islam dari praktek-praktek umat islam
yang berada di bawah kekuasan mereka. Dalam buku itu ia mencoba menjelaskan
islam yang senenarya, islam yang tidak bertentangan dengan peradaban modern.
Menurut pendapatnya ”tidak satu pun dari dasar-dasar dan teori-teori ilmiah
yang membawa kepada kemajuan umat manusia seperti, trdapat dalam Al-Qur’an dan
Hadits sendiri”, kenyataan ini menjadi argumen kuat untuk membuktikan kebenaran
islam. Dan ia juga brpendapat bahwa islam sejati adalah yang sesuai dengan
peradaban. Farid Wajli juga mengarang ensiklopedia yang bernama ”Dairah
Al-Ma’arif Al-Qur’an Al-Isyrin dan tersusun dari sepuluh jilid. Menurut
keterangan buku itu ia karang tanpa bantuan orang lain. Ensiklopedi ini banyak
mengandung ide-ide modern.
3. Syaikh Tantawi Jauhari
Syaikh
Tantawi Jauhari adalah Murid Muhammad Abduh yang menonojolkan ajarannya tentang
Sunatullah. Guru banyak menyebutkn Sunatullah yang tidak berubah-ubah, hukum
alam yang diciptkan tuhan dan yang harus di patuhi alam dalam peredarannya.
Oleh karena itu Syaikh Tantawi Jauhari banyak menulis tentang ilmu bintang dan
ilmu alam dalam buku-buku Al-Jaj Al- Murassa ’bi Jawahir Al-Qur’an Al ulum
(”mahkota yang dihiasi dengan permata-mata Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan”)
Jamal al-’lam (”keindahan alam”), dan Al-Nizam Wa al-’alam (”peraturan dan alam”).
4. Ahmad Lutfi Al-Sayyid
Seperti
Muhammad Abduh dan Sa’ad Zaqlul, ia berasal dari daerah pedesaan Mesir tetapi
setelah memasuki Madrasah tradisional pindah ke kairo untuk belajar pada
sekolah Modern. Pada tahun 1889 ia meneruskan pelajaran pada Perguruan Tinggi
Hukum. Di Kairo ia masuk ke dalam lingkungan teman dan murid Muhammad Abduh, ia
banyak membaca buku karangan filosof-filosof barat. Ide-ide Lutfi Sayyid ialah
tentang ide kemerdekaan dan kebebasan. Kebebasannya ialah dalam berfikir dan kemerdekaan
dalam hidup kemasyarakatan dari ikatan-ikatan politik yang berlebih-lebihan.
Negara yang menjadi idamannya ialah Negara yang bercorak Liberal, sedangkan
Negara yang menjadi pimpinan oleh seorang rasa yang Absolut ia tantang, karena
menurut pendapatnya kemerdekaan individu erat hubungannya dengan kemerdekaan
Negara. Lutfi Sayyid juga menganut paham Nasionalisme, dan Nasionalismenya
ialah Nasionalisme Mesir.
5. Taha Husain
Taha
Husain berasal dari keluarga petani yang dimasa kecilnya mendapat penyakit yang
membuat ia kehilangan penglihatannya. Setelah lulus dari madrasah ia
melanjutkan pelajarannya di Al-Azhar. Di sinilah ia bertemu dengan ide-ide
Muhammad Abduh dan murid-muridnya, terutama Lutfi Sayyid. Selanjutnya ia
belajar bahasa prancis, mengikuti kuliah di Universita Kairo dan kemudian pergi
ke Paris. Di sana ia belajar selama empat tahun dan kawin dengan putri prancis.
Setelah itu pada tahun 1919 ia kembali ke Kairoh dan bekerja sebagai Dosen di
Universitas Kairoh dan Universitas Alexandria. Ia banyak mengarang terutama
bidang Sastra Arab. Ia berpendapat bahwa sebagian besar dari Sastra Arab
Jahiliah. Taha Husain mendapat tantangan keras dan kritik, karenaide itu
menghancurkan dasar keyakinan pada keorisinilan syair jahiliah. Ia ingin supaya
Mesir maju dan modernseperti Eropa. Ia berpendapat bahwa untuk itu Mesir mesti
mengikuti jejak Eropa. Taha Husain juga menganut Paham Nasionalisne Mesir, ia
beserta murid-murid Muhammad Abduh lainnya tidak melepaskan diri dari ikatan
Agama.
6. Ali Abd Al-Raziq
Ali
Abd Al-Rariq adalah putra dari seorang sahabat Muhammah Abduh tetapikarena
masih kecil ia tidak sempat menjadi muridnya, setelah selesai dari Al-Azhar ia
meneruskan studi di Oxford. Persoalan di zaman Ali Abd Al-Raziq ialah tentang
khalifah yang telah di hapuskan Mustafa Kamal pada tahun 1924. Dan persoalan
ini menimbulkan kehebohan di dunia islam, karena mereka menganggap sistem
Khalifah merupakn ajaran daar dan penghapusannya bertentangan dengan Ilam. Ali
Abd Al-Raziq berpendapat lain yang ia jelaskan dalam buku ”Al-Islam Wa Al-Hukm”
(islam dan ketatanegaraan), menurut pendapatnya sistem pmerintahan tidak di
singgung-singgung oleh Al-Qur’an dan Hadits. Pendapat liberal yang dikemukakan
oleh Ali Abd Al-Raziq ini mendapat kritik dan tantangan kerasdari berbagai
golongan umat islam yang ada pada aktu itu, termasuk Rasyid Rida seoang murid
terdekat Muhamamad Abduh yang mana beliau mempertahankan sistem khalifah dan
memandang pendapat Ali Abd Al-Raziq itu akan memperlemah umat islam, selain itu
juga Ali Abd Al-Raziq mendapat tantangan keras yang datang dari Al-Azhar,
mereka menganggap buku itu mengandung pendapat yang bertentangan denagn ajaran
islam. Sehingga Ali Abd Al-Raziq tidak dapat di akui sebagai seorang ulama, dan
namanya dihapus dari daftar Al-Azhar, selanjutnya ia di pecat pula dari jabatan
hakim agama yang dipegangnya. Syaikh ‘Ali Abdu Roziq, seorang murid ‘Abduh
ketika pada tahun1925 menerbitkan sebuah buku yang menganjurkan penghapusan
jabatan khalifah dan dipisahkannya persoalan-persoalan kemasyarakatan dari
aturan-aturan agama, dia dipersalahkan sebagai orang yang melanggar ajaran
Islam otdodoks berdasarkan keputusan bulat yang diambil oleh Dewan ‘Ulama
Al-Azhar, dipecat dari jabatannya sebagai dosen Al-Azhar dan dinyatakan tidak berhak
memangu jabatan keagamaan apapun. Pada tahun 1930, seorang Syaikh lainnya yaitu
Muhammad Abu Zaid menerbitkan sebuah kitab al-Qur’an dengan dibubuhi
anotasi-anotasi, yang isinya mengkritik kitab-kitab tafsir al-Qur’an lama dan
menafsirkan ayat-ayat tentang alam adi-kodrati(superanatural) dengan cara-cara
naturalis sederhana. Walaupun tujuan diterbitkannya kitab itu adalah mendorong
generasi muda agar mereka mau mempelajari al-Qur’an, kitab itu disita polisi
dan sebuah surat perintah dikeluarkan berisi larangan kepada penulisnya untuk
menjadi khatib (muballigh) atau menyelenggarakan pertemuan-pertemuan
keagamaan.
7. Sa’ad Zaglul
Sa’ad
Zaglul seorang yang dikenal dengan Bapak kemewrdekaan Mesir. Ia adlah sama
dengan Muhammad Abduh, beraal dari lingkungan desa yang belum kenal pada
Sekolah Modern. Pendidikan pertamanya di Madraah tradisional dan pada tahun
1871 ia melanjutkan pelajarannya di Al-Azhar dan menjadi murid jamaludin
Al-Afgani dan Muhammad Abduh, bahkan ia turut serta dan pernah ditangkap bersama
gurunya pada waktu menjalankan kegitan politik. Sa’ad Zaglul pernah bekerja
sebagai Pengacara dan Hakim. Maka untuk memperdalam pengetahuannya tentang
Hukum Barat ia memasuki ”Perguruan Tinggi Hukum Prancis” di Kairo, namanya
mulai di kenal pada tahun 1896, ia kawin dengan Putri Perdana Menteri yang ada
pada waktu itu. Tujuan politik Sa’ad Zaglul ialah mewujudkan ide gurunya, yaitu
membatai kekuasaan otokrasi khedewi (sultan) Mesir dan melepaskan Mesir dari
kekuaaan Inggris. Sasaran politik utama Sa’ad Zaglul bukan lagi pemerintahan
khedewi, tetapi kekuaan Inggris di Mesir. Tujuan utamanya ialah kemardekaan
Mesir. Dan pada tahun 1922 Mesir memperoleh kemerdekaannya. Paham Nasionalisme
Sa’ad Zaglul sesuai dengan pendapat Al-Tahtawi dan Muhammad Abduh, mengambil
tanah air sebagai dasar, yang di perjuangkan ialh Nasionalisme Mesir dan bukan
Nasionalisme Arab. Untuk kemajuan Mesir, pembaharuan dalam pendidikan dan
bidang Hukum perlu diadakan. Pendidikan Mesti terbuka bagi semua orang,
termasuk fakir miskin, jumlah sekolah ia perbanyak, dan bahasa Inggris sebagai
bahasa pengantar secara berangsur ia tukar dengan Bahasa Arab. Dalam Bidang
Politik ia dirikan ”Perguruan Tinggi Hakim Agama”. Tujuannya untu memberikan
pendidikan Modern bagi calon-calon Hakim Agama. Sebagaimana gurunya, ia juga
menentang pemerintahan Absolut dan ia menghendaki pemerintahan Demokrasi, yang
harus beruasaha mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat, baik Islam maupun
non Islam.
BAB lll
PENUTUP
KESIMPULAN
Awal
mula Pembaharuan Mesir terjadi sejak kontak dengan Eropa yang dimulai dari
datangnya ekspedisi Napoleon Bonaparte yang mendarat di Aleksandria pada tahun
1798 M. diman pada saat itu napoleon
Bonaparte dapat menguasai seluruh wilayah mesir.
Dan
dari situlah mincul tokoh-tokoh pembaharuan islam di mesir seperti : Muhammad
ali pasha, al-tahtawi, Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dan murid-murid Muhammad abduh dengan berbagai
pemikiran-pemeriran mereka yang telah di jelaskan di pembahasan di atas.
BAB 1V
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Di akses dari http://inventarisasi-pengetahuan-masyarakat.blogspot.co.id/2007/07/riwayat-muhammad-ali-pasya.html (08 mei 2017)
Anonim, https://raidnhh.wordpress.com/2014/12/01/biografi-dan-pemikiran-tokoh-pembaruan-islam-al-tahtawi/ (08 mei 2017)
Nasution,harun.1975.Pembaharuan
dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan.Jakarta: PT.Bulan Bintang.
Wibowo,faisal,2013.pembaharuan di mesir.di ambil
dari http://faisal-wibowo.blogspot.co.id/2013/01/pembaruan-di-mesir.html. (08 mei 2017)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar