Senin, 29 Mei 2017

Tokoh Pembaharuan Mesir


BAB 1
PEBDAHULUAN

1.      LATAR BRLAKANG

Islam mengalami puncak kejayaan di berbagai bidang dan menjadi kiblat peradaban seantero dunia ketika sekitar tahun (1.500-1.800 M ) dimana pada saat itu ada 3 kerajaan islam yang mengalami kejayaan seperti : kerajaan utsmani diturki, safawi di Persia dan Mughal di india.. dan Punahnya kejayaan Islam terjadi antara tahun (1.700-11.800 M ) dan dengan melemahnya kekuasaan islam dan bertambah besarnya kekuatan bangsa barat membuat Napoleon Bonapatle berhasil menguasai Mesir pada tahun 1798.
 Ini merupakan momentum baru bagi sejarah umat islam, khususnya di Mesir yang menyebabkanb bangkitnya kesdaran akan kelemahan dan keterbelakangan mereka.Hal ini yang membuat para pemikir-pemikir Islam di Mesir berusaha melakukan perubahan meninggalkan keterbelakangan mereka menuju kemajuan di berbagai bidang.

2.      RUMUSAN MASALAH

1.      Bagaimana awal mula pembaharuan di mesir?
2.      Siapa saja tokoh-tokoh pembaharuan mesir ?
3.      Apa saja ide/pemikiran dari tokoh-tokoh tersebut ?

3.      TUJUAN
1.      Mengetahui lebih lanjut tentang pembaharuan yang terjadi di mesir beserta tokoh-tokoh yang berjasa di dalamnya
2.      Menambah wawasan/pengetahuan tentang pembaharuan yang pernah terjadi di mesir



BAB ll
PEMBAHASAN

A.   Sejarah awal pembaharuan mesir

Reformasi Islam lahir pada akhir abad ke-19 sebagai jawaban terhadap pengaruh dunia barat  yang yang gencar menyerang kaum muslimin. Sedangkan yang menjadi isu sentral mereka adalah upaya agar keyakinan agama sesuai dengan pemikiran modern. Termasuk pula dalam hal ini tentunya, pemahaman umat Islam terhadap Alquran. 
Kesadaran akan perlunya diadakan pembaharuan timbul pertama kali salah satunya di Mesir. Pembaharuan yang terjadi di Mesir terjadi sejak terjadinya kontak dengan Eropa yang dimulai dari datangnya ekspedisi Napoleon Bonaparte yang mendarat di Aleksandria pada tahun 1798 M. Kedatangan Napoleon ini juga membawa banyak oleh-oleh dari Eropa yang berupa ilmu pengetahuan, kebudayaan dan teknologi, hingga ia mampu mendirikan lembaga ilmiah Institut d’Egypte. Di samping itu Napoleon juga mempunyai hubungan baik dengan ulama-ulama Al-Azhar. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu terjadinya pembaharuan dalam Islam di Mesir. [1]
Berbicara tentang proses pembaharuan di Mesir, di kenal beberapa orang tokoh pembaharu yaitu : Muhammad ali pasha, al-tahtawi, Jamaluddin al-Afghani,  Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dan murid-murid Muhammad abduh.

B.   Tokoh dan Ide-Ide Pembaharuannya

A.    Muhammad Ali Pasya

Lahir pada tahun 1765 ia merupakan seorang keturunan Turki yang lahir di Kawalla. Ali menjadi perwira untuk melawan tentara Napoleon yang telah menguasai Mesir. Meski Ali menjadi perwira akan tetapi Ia belum pernah mempunyai kesempatan untuk mengenyam pendidikan sekolah, sehingga Ali kurang pandai dalam menulis dan membaca, karena pada masa kecilnya dia sudah harus membantu orang tuanya untuk bekerja sebagai penjual rokok.
Setelah dewasa ia bekerja sebagai pemungut pajak dan karena kecakapannya dalam pekerjaan ini, ia menjadi kesayangan Gubernur Usmani setempat. Akhirnya is diangkat sebagai menantu oleh Gubernur, mulai dari waktu itu bintangnya terus menaik. Selanjutnya ia masuk dinas militer dan dalam lapangan ini ia juga menunjukan kecakapan dan kesanggupan, sehingga pangkatnya cepat naik menjadi Perwira. Kehebatan Ali terlihat ketika mengusir tentara Perancis, karena keberaniannya itu ia diangkat menjadi Kolonel. Pasukan perancis bisa dikeluarkan dari Mesir pada tahun 1801. Dari sinilah Muhammad Ali mulai terjun ke dunia politik. Karena politik yang selama ini dikuasai oleh orang Perancis telah takluk dibawah kekuasaan Ali.
Pada tahun 1805 Muhamad Ali berhasil mengadu domba antara kaum Mamluk dengan tentara Usmani, akhirnya pasya menyerah dan dapat dipaksa kembali ke Istambul, pada saat ini juga dengan terpaksa Sultan Usmani mengakui Muhammad Ali sebagai Pasya. Setelah menduduki kekuasaan di Mesir, Muhammad Ali mulai memusnahkan pihak-pihak yang menentang kekuasaannya, khususnya kaum Mamluk.Ali mendapat kesempatan untuk memusnahkan kaum Mamluk, kesempatan ini terjadi ketika kaum Mamluk mempunyai konspirasi jahat terhadap Ali itu ketahuan oleh Ali, sehingga banyak dari pemimpin-pemimpin Mamluk yang ditangkap dan dibunuh, Ali seolah-olah memaafkan kaum Mamluk yang lainnya dengan cara mengundang mereka semua untuk berpesta di istana Ali di bukit Mukatam. Setelah semua orang masuk dalam istana, pintu-pintu dikunci dan dimulailah pembunuhan masal kaum Mamluk yang dilakukan oleh Muhammad Ali. Menurut cerita, penduduk Mamluk yang berjumlah 470 jiwa ini tewas semua yang tersisa hanya satu orang yang berhasil lolos melompat keluar istana, dengan kejadian ini pada tahun 1811 kekuatan Mamluk di Mesir telah musnah.Ali mulai bertindak sebagai diktator tatkala ia berkuasa sebagai Wakil Sultan di Mesir, sementara rakyatnya tidak berdaya karena tidak mempunyai kekuatan serta organisasi yang kuat untuk melawan dan menentang kekuasaan Ali. Muhammad Ali mulai memperkuat kekuasaanya dengan cara memajukan di bidang Militer dan Ekonomi, ia yakin bahwa dibelakang kekuatan Militer ada kekuatan yang mendukung yaitu kekuatan ekonomi, kekuatan ekonomi yang dapat membelanjai pembaharuan dalam bidang Militer.
Meski Ali seseorang yang buta huruf, akan tetapi ia mengerti akan arti pendidikan dan arti ilmu pengetahuan untuk kemajuan suatu negara. Terbukti dengan pahamnya Ali akan pentingnnya pendidikan dan pengetahuan ia mendirikan Kementrian Pendidikan. Muhammad Ali seorang yang pertama di Mesir membuka sekolah, sekolah yang dibangun diantaranya :
1.      Sekolah Militer pada tahun 1815
2.      Sekolah Tehnik pada tahun 1816
3.      Sekolah Kedokteran pada tahun 1827
4.      Sekolah Obat-obatan pada tahun 1829
5.      Sekolah Pertambangan pada tahun 1834
6.      Sekolah Pertanian pada tahun 1836
7.      Sekolah Penerjemahan pada tahun 1836.

Demi kemajuan dalam bidang pendidikan tersebut, Muhammad Ali langsung mendatangkan orang-orang ahli dari Eropa sebagai guru, mendatangkan penerjemah Arab dan Turki karena ia sendiri tidak mampu berbahasa Arab, semua ceramah-ceramah diterjemahkan oleh orang-orang Ahli. Selain banyak mendatangkan Guru dari Eropa, ia juga mengirim siswa-siswa untuk belajar disana. Menurut statistik diantara tahun 1813, dan tahun 1849, ia mengirim 311 pelajar Mesir ke Itali, Perancis, Inggris, dan Austria.
Di Paris didirikan satu rumah Mesir untuk menampung pelajar-pelajar itu. Yang dipentingkan dari Muhammad Ali terhadap siswa-siswa yang dikirim belajar ke luar ialah ilmu-ilmu kemiliteran darat dan laut, arsitek, kedokteran, dan obat-obatan. Semua ilmu ini dekat hubungannya dengan soal kemiliteran.Mahasiswa-mahasiswa yang dikirim ke Eropa juga dilarang untuk mempelajari Ilmu Politik, ia tak ingin orang-orang yang dikirimnya ke Eropa menyelami apa yang lebih dari apa yang perlu baginya, mahasiswa dibawah pengawasan yang ekstra ketat, mereka tak diberi kemerdekaan bergerak di Eropa.
Ide-ide baru muncul mengenai tentang demokrasi, parlemen, pemilihan wakil rakyat, paham pemerintahan republik, konstitusi, kemerdekaan berpikir, dinamisme barat diperbandingkan dengan sikap statis timur, cinta tanah air (patriotisme), keadilan sosial dan sebagainya, ini semua karena mahasiswa telah mengetahui bahasa Eropa, terutama bahasa Perancis dan dengan membaca karangan-karangan Voltaire, Rousseau, Montesquieu dan lain-lain.
Memang pada dasarnya ide-ide dan ilmu hanya terbatas kepada mahasiswa yang dikirim ke Eropa, akan tetapi faham-faham ini mulai menjalar ke masyarakat karena adanya terjemahan-terjemahan buku barat ke dalam bahasa Arab, sehingga masyarakat pun mengalami kemajuan.
Penerjemahan buku-buku mulai berjalan lancar setelah didirikan sekolah penerjemahan pada tahun 1836. Sekolah ini beberapa tahun kemudian diserahkan kepada Pimpinan Rifa’ah Al-Tahtawi, seorang ulama Azhar yang pernah belajar di Paris dan kemudian ada pengaruhnya dalam penyiaran ide-ide Barat di Mesir.
Meski sistem yang diterapkan Ali memakai kediktatoran dengan cara menbinasakan kaum Mamluk, tetapi dia mampu mengembangkan sector pendidikan serta kemiliteran terbukti dia mampu membangun sekolah-sekolah serta mampu mengubah pola pikir masyarakat. Masyarakat pada zaman kekuasaan Ali dapat mengetahui perkembangan yang ada di Negara tetangga karena sudah banyak terjemahan bahasa yang sudah dapat dikonsumsi oleh masyarakat, ini semua tak lepas dari campur tangan Ali dengan cara mengirimkan warganya untuk belajar di negara-negara Eropa, maka bisa dikatakan umat Islam pada masa kekuaasaan Muhamad Ali mengalami perubahan yang begitu berarti dalam pembahruan islam.[2]

B.     Al – Tahtawi

Rifa’ah Badawi Rafi’ al-Tahtawi adalah pembawa pemikiran pembaharuan yang besar pengaruhnya di pertengahan pertama dari abad ke sembilan belas di Mesir. Dalam gerakan pembaharuan Muhammad Ali Pasya, at-Tahtawi turut memainkan peranan.
Ia lahir pada tahun 1801 di Tahta, suatu kota yang terletak di Mesir bagian selatan, dan meninggal di Cairo pada tahun 1873. Ketika Muhammad Ali mengambil alih seluruh kekayaan yang dikuasai itu, ia terpaksa belajar di masa kecilnya dengan bantuan dari keluarga ibunya. Ketika berumur 16 tahun ia pergi ke Cairo untuk belajar di al-Azhar. Setelah lima tahun menuntut ilmu ia selesai dari studinya di al-Azhar pada tahun 1922
Ia adalah murid kesayangan dari gurunya Syaikh Hasan al-‘Atthar yang banyak mempunyai hubungan dengan ahli-ahli ilmu pengetahuan Prancis yang datang dengan Napoleon ke Mesir. Syaikh Al-Attar melihat bahwa Tahtawi adalah seorang pelajar yang sungguh-sungguh dan tajam pikirannya, dan oleh karena itu ia selalu memberi dorongan kepadanya untuk senantiasa menambah ilmu pengetahuan. Setelah selesai dari study di Al-Azhar, Al-Tahtawi mengajar disana selama dua tahun, kemudian diangkat menjadi imam tentara di tahun 1824. Dua tahun kemudian dia diangkat menjadi imam mahasiswa-mahasiswa yang dikirim Muhammad Ali ke Paris . Disamping tugasnya sebagai imam ia turut pula belajar bahasa Prancis sewaktu ia masih dalam perjalanan ke Paris.
Dengan adanya pengiriman mahasiswa ke Prancis maka lahirlah tokoh-tokoh mahasiswa yang brilian seperti Al Tahtawi yang pandai bahasa Prancis kemudian ditunjuk menjadi pimpinan dalam penerjemahan buku-buku teknik dan kemiliteran. Kemudian pada Tahun 1836 didirikan sekolah penerjemahan yang kemudian dirubah menjadi sekolah bahasa-bahasa asing. Al Tahtawi tugasnya mengoreksi buku-buku yang diterjemahkan murid-murid nya yang menghasilkan hampir seribu buah buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
Selain sebagai pemimpin dalam penerjemahan buku-buku asing, Al Tahtawi menerbitkan surat kabar resmi yang diberi nama Al-Waqa-i ‘Ul-Mishriyah yang memuat berita-berita tentang kemajuan Barat termasuk teori-teori politik yang didasarkan kepada keadilan dan kerakyatan. Al-Tahtawi juga mengarang buku-buku dalam penyebaran pengetahuan modern kepada khalayak ramai. Diantara beberapa buku terpentingnya: Taukhlisul Ibriz fi talkhishi Bariz ( intisari dan kesimpulan tentang Paris), Manahijul albab al-Mishriyah fi manahijil adab al-“ashriyah ( Jalan bagi orang Mesir untuk mengetahui Literatur Modern), dan buku Al-Mursyidul Amin lil Banati wa al-Banin (petunjuk bagi Pendidikan putra-dan puteri), buku Al Qaul as Sadid fi al Ijtihadi wa al-Taqlid (perkataan yang benar tentang Ijtihad dan Taqlid). Pemikiran al-Tahtawi ini belum seradikal tokoh-tokoh setelahnya, seperti pendidikan puteri hanya dilakukan di rumah, menyekolahkan wanita masih dihukum makruh, sedangkan ulama harus mengetahui ilmu modern agar dapat menyesuaikan syariat dengan kebutuhan modern, yang pada konsekuensinya mengandung arti ijtihad masih terbuka, akan tetapi belum berani dijelaskan secara terang-terangan karena masih dianggap radikal pada saat itu.
Tahtawi tinggal di Prancis selama lima tahun. Sekembalinya ke Mesir, ia menuliskan pengalaman hidupnya selama berada di Paris dalam sebuah buku yang kemudian menjadi salah satu sumber penting sejarah pemikiran modern dalam Islam. Yakni, Takhlis al-Ibriz ila Talkhis Bariz. Dalam buku ini, Tahtawi memuji pencapaian yang dilakukan negara-negara Eropa, khususnya Prancis. Ia menggambarkan kondisi Prancis yang bersih, anak-anak yang sehat, orang-orang yang sibuk bekerja, semangat belajar yang terpancar dari wajah kaum mudanya, dan kelebihan-kelebihan lainnya yang ia saksikan selama berada di Prancis
Begitu menginjakkan kakinya di bumi Mesir, Tahtawi bertekad untuk memajukan tanah airnya. Memori Prancis dengan segala keindahan dan kedisiplinan warganya selalu menjadi obsesinya. Bukunya, Takhlis, yang diterbitkan hanya beberapa bulan setelah kedatangannya di Mesir adalah salah satu bukti dari tekadnya yang begitu kuat untuk meng-Eropakan Mesir. Di Kairo, ia mendirikan lembaga penerjemahan yang disebut Sekolah Bahasa.  Lembaga ini mirip dengan fungsi Bayt al-Hikmat pada masa-masa awal kerajaan Abbasiyyah. Thahthawi sendiri menerjemahkan sekitar 20 buku berbahasa Prancis dan mengedit puluhan karya terjemahan lainnya.
Sebagian besar buku-buku yang disupervisinya adalah buku-buku sejarah, filsafat, dan ilmu kemiliteran. Buku penting yang diterjemahkannya sendiri adalah Considerations sur les Causes de la Grandeur des Romains et de leur Decadence karya filsuf Prancis Montesquieu.Dalam hal agama dan peranan ulama, al-Tahtawi menghendaki agar para ulama selalu mengikuti perkembangan dunia modern dan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan modern.[3]

C.    Jamaluddin Al-Ghfani
Jamaludin al-Afghani adalah seorang pemimpin pembaharuan yang tempat tinggal dan aktifitasnya berpindah-pindah dari satu negara ke negara Islam lainya pengaruh terbesar yang ditinggalkannya adalah di Mesir, oleh karena itu uraian mengenai pemikiran dan aktivitasnya dimasukkan kedalam bagian tentang pembaharuan di dunia Arab. Jamaludin al-Afghani lahir di Afghanistan pada tahun 1839 M. dan meninggal dunia pada tahun 1897 M. Dalam silsilah keturunannya al-afghani adalah keturunan Nabi melalui Sayyidina Ali ra. Ketika baru berusia duapuluh dua tahun ia telah menjadi pembantu bagi pangeran Dost Muhammad Khan di Afghanistan. Di tahun 1864 ia menjadi penasehat Sher Ali Khan. Beberapa tahun kemudian ia diangkat oleh Muhammad A’zam Khan menjadi Perdana Menteri. Kemudian al-Afghani merasa lebih aman apabila meninggalkan tanah tempat lahirnya dan pergi ke India di tahun 1869. tetapi di India dia juga merasa tidak bebas untuk bergerak karena negara ini telah jatuh ke bawah kekuasaan Inggris, oleh karena itu ia pindah ke Mesir di tahun 1871. Ia menetap di Kairo, pada mulanya menjauhi persoalan-persoalan politik Mesir dan memusatkan perhatian pada bidang ilmiah dan sastra Arab.                      Tetapi ia tidak lama dapat meninggalkan lapangan politik. Di tahun 1876 turut campur tangan Inggris dalam soal politik di Mesir makin meningkat. Ketika itu ide-ide al-Tahtawi sudah mulai meluas di kalangan masyarakat Mesir, diantaranya ide trias politica dan patriotisme, maka pada tahun 1879 atas usaha Al- Afghani terbentuklah partai Al-Hizb al-Watani (partai nasional). Tujuan partai ini untuk memperjuangkan pendidikan universal dan kemerdekaan pers. Atas sokongan partai ini al-Afghani berusaha menggulingkan Raja Mesir yang berkuasa waktu itu, yakni Khedewi Ismail. Masa delapan tahun menetap di Mesir itu mempunyai pengaruh yang tidak kecil bagi umat Islam disana menurut M.S. Madkur, al-Afghanilah yang membangkitkan gerakan berpikir di Mesir sehingga negara ini dapat mencapai kemajuan. “Mesir modern,”
Selama di Mesir al-Afghani mengajukan konsep-konsep pembaharuannya, antara lain:
1.      Musuh utama adalah penjajahan (Barat), hal ini tidak lain dari lanjutan perang Salib.
2.      Ummat Islam harus menantang penjajahan dimana dan kapan saja.
3.      Untuk mencapai tujuan itu ummat Islam harus bersatu (Pan Islamisme).
Pan Islamisme bukan berarti leburnya kerajaan-kerajaan Islam menjadi satu, tetapi mereka harus mempunyai satu pandangan bersatu dalam kerja sama. Persatuan dan kerja sama merupakan sendi yang amat penting dalam Islam.
           
Dan Untuk mencapai usaha-usaha pembaharuan tersebut di atas, oerluh di lakukan beberapa hal penting di antaranya:
1.      Rakyat harus dibersihkan dari kepercayaan ketakhayulan.
2.      Orang harus yakin bahwa ia dapat mencapai tingkat atau derajat budi luhur.
3.      Rukun Iman harus betul-betul menjadi pandangan hidup, dan kehidupan manusia bukan sekedar ikutan belaka.
4.      Setiap generasi ummat harus ada lapisan istimewa untuk memberikan pengajaran dan pendidikan pada manusia-manusia bodoh dan juga memerangi hawa nafsu jahat dan disiplin.
Selama delapan tahun menetap di Mesir ia pergi ke Paris, disini ia mendirikan perkumpulan “Al-Urwatul Wusqa” yang anggotanya terdiri dari orang-orang Islam dan India, Mesir, Suria, Afrika Utara dan lain-lain. Diantara tujuan yang ingin dicapai ialah memperkuat rasa persaudaraan Islam, membela Islam dan membawa Islam kepada kemajuan. Kemudian di Paris inilah ia bertemu dengan muridnya yang setia yaitu Muhammad Abduh dan kemudian ia kembali keIstambul, sampai akhir hayatnya.[4]

D.    Muhammad Abduh
Muhammad Abduh lahir di desa Mahillah di Mesir Hilir, ibu bapaknya adalah orang biasa yang tidak mementingkan tanggal dan tempat lahir anak-anaknya. Ia lahir pada tahun 1849, tetapi ada yang mengatakan bahwa ia lahir sebelum tahun itu, tetapi sekitar tahun 1845 dan beliau wafat pada tahun 1905. Ayahnya bernama Abduh ibn Hasan Khairillah, silsilah keturunan dengan bangsa Turki, dan ibunya mempunyai keturunan dengan Umar bin Khatab, khalifah kedua (khulafaurrasyidin).Orang tuanya sangat memperhatikan pendidikannya, pada tahun1862 ia dikirim oleh ayahnya ke perguruan agama di mesjid Ahmadi yang terletak di desa Tanta . Hanya dalam waktu enam bulan ia berhenti karena tidak mengerti apa yang diajarkan gurunya. Setelah belajar di Tanta pada tahun 1866 ia meneruskan ke perguruan tinggi di Al-Azhar di Kairo, disinilah ia bertemu dengan Jamaludin al-Afghani dan kemudian ia belajar filsafat di bawah bimbingan Afghani, di masa inilah ia mulai membuat karangan untuk harian al-Ahram yang pada saat itu baru didirikan. Pada tahun 1877 studinya selesai di al-Azhar dengan hasil yang sangat baik dan mendapat gelar Alim. Kemudian ia diangkat menjadi dosen al-Azhar disamping itu ia mengajar di Universitas Darul Ulum.                     Dalam peristiwa pemberontakan Urabi Pasya (1882) Muhammad Abduh ikut terlibat didalamnya, sehingga ketika pemberontakan berakhir, ia diusir dari Mesir. Dalam pembuangannya ia memilih di Syiria ( Beirut ) di sini ia mendapat kesempatan mengajar pada perguruan tinggi Sultaniah, kurang lebih satu tahun lamanya. Kemudian ia pergi ke Paris atas panggilan Sayyid Jamaludin al-Afghani, yang pada waktu itu tahun 1884 sudah berada disana. Muhammad Abduh kebetulan diperkenankan pulang ke Mesir, sedang Jamaluddin mengembara di Eropa kemudian terus ke Moskow.                                                                           Di Mesir Muhammad Abduh diserahi jabatan Mufti Mesir, disamping itu ia diangkat menjadi anggota Majelis Perwakilan (Legilative Council), Muhammad Abduh pernah juga di serahi jabatan hakim Mahkamah, dan di dalam tugas ini ia dikenal sebagai seorang Hakim yang adil
Pokok-pokok pikiran Muhammad Abduh dapat disimpulkan dalam empat aspek, yaitu:
1.      aspek kebebasan, antara lain; dalam usaha memperjuangkan cita-cita pembaharuannya, MuhammadAbduh memperkecil ruang lingkupnya, yaitu Nasionalisme Arab saja dan menitikberatkan pada pendidikan.
2.      aspek kemasyarakatan, antara lain usaha-usaha pendidikan perlu diarahkan untuk mencintai dirinya, masyarakat dan negaranya. Dasar-dasar pendidikan seperti itu akan membawa kepada seseorang untuk mengetahui siapa dia dan siapa yang menyertainya.
3.      aspek keagamaan, dalam masalah in Muhammad Abduh tidak menghendaki adanya taqlid, guna memenuhi tuntutan ini pintu ijtihad selalu terbuka
4.      aspek pendidikan antara lain, al-Azhar mendapatkan perhatian perbaikan, demikian juga bahasa Arab dan pendidikan pada umumnya cukup mendapat perhatiannya.
Menurut Muhammad Abduh bahasa Arab perlu dihidupkan dan untuk itu metodenya perlu diperbaiki dan ini ada kaitannya dengan metode pendidikan. System menghafal diluar kepala perlu diganti dengan system penguasaan dan penghayatan materi yang dipelajari.
Pemikiran pembaharuan tersebut dilakukan dalam rangka membangkitkan kembali dunia Islam agar ia dapat berkembang dalam aktualisasi dunia yang sangat cepat dan aplikatif tersebut. Secara khusus bahwa program pembaharuan Muhammad Abduh mempunyai 3 tujuan utama, yaitu :
1.      membebaskan akal manusia dari rutinitas yang membosankan,
2.      manusia Islam dari budaya imitasi (meniru) yang cenderung mencerabut rasa kebanggaan diri dan kemampuan aktualisasi diri.
3.      membebaskan manusia muslim dari kemandegan berfikir (Stagnasi Intelektual).[5]

E.     Rasyid Ridha

Sosok intelektual satu ini bernama lengkap Muhammad Rasyid bin Ali Ridha bin Syamsuddin bin Bahauddin Al-Qalmuni Al-Husaini. Namun, dunia Islam lebih mengenalnya dengan nama Muhammad Rasyid Ridha. Ia lahir di daerah Qalamun (sebuah desa yang tidak jauh dari Kota Tripoli,Lebanon)pada 27Jumadil Awal 1282 H atau 865 M.                            Muhammad Rasyid Ridha dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga terhormat dan taat beragama. Dalam sebuah sumber dikatakan bahwa Rasyid Ridha masih memiliki pertalian darah dengan Husin bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad SAW. 
Rasyid Ridha adalah seorang intelektual muslim dari Suriah yang mengembangkan gagasan modernisme Islam yang awalnya digagas oleh Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh. Ridha mempelajari kelemahan-kelemahan masyarakat muslim saat itu, dibandingkan masyarakat kolonialis Barat, dan menyimpulkan bahwa kelemahan tersebut antara lain kecenderungan umat untuk mengikuti tradisi secara buta (taqlid), minat yang berlebihan terhadap dunia sufi dan kemandegan pemikiran ulama yang mengakibatkan timbulnya kegagalan dalam mencapai kemajuan di bidang sains dan teknologi.
Ia berpendapat bahwa kelemahan ini dapat diatasi dengan kembali ke prinsip-prinsip dasar Islam dan melakukan ijtihad dalam menghadapi realita modern. 
Selain menekuni pelajaran di sekolah tempat ia menimba ilmu, Rasyid Ridha juga rajin mengikuti beberapa perkembangan dunia Islam melalui surat kabar Al-Urwah Al-Wusqo (sebuah surat kabar berbahasa Arab yang dikelola oleh Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh, dan diterbitkan selama masa pengasingan mereka di Paris). Melalui surat kabar ini, Rasyid Ridha mengenal gagasan dua tokoh pembaru yang sangat dikaguminya, yaitu Jamaluddin Al-Afghani, seorang pemimpin pembaru dari Afghanistan, dan Muhammad Abduh, seorang pembaru dari Mesir. Ide-ide brilian yang dipublikasikan itu begitu berkesan dalam dirinya dan menimbulkan keinginan kuat untuk bergabung dan berguru pada kedua tokoh itu. Keinginan untuk bertemu dengan Al-Afghani ternyata belum tercapai, karena tokoh ini lebih dahulu meninggal dunia. Namun, ketika Muhammad Abduh ke Beirut, Rasyid Ridha berkesempatan berdialog serta saling bertukar ide dengan Abduh. Pertemuan dan dialog dengan Muhammad Abduh semakin menumbuhkan semangat juang dalam dirinya untuk melepaskan umat Islam dari belenggu keterbelakangan dan kebodohannya. Rasyid ridha meyakini kebenaran gerakan Salafiyah yang dipelopori oleh Afghani dan Abduh, dan menariknya sedikit demi sedikit dari ajaran tasawuf tradisional. 
Salafiyah adalah suatu aliran keagamaan yang berpendirian bahwa untuk dapat memulihkan kejayaan umat islam harus kembali kepada ajaran Islam yang masih murni seperti yang dulu diamalkan oleh generassi Islam yang pertama, yang biasa juga disebut salaf (pendahulu) yang saleh. 
Di Lebanon, Rasyid Ridha mencoba menerapkan ide-ide pembaruan yang diperolehnya. Namun, upayanya ini mendapat tentangan dan tekanan politik dari Kerajaan Turki Usmani yang tidak menerima ide-ide pembaharuan yang dilontarkannya. Akibat semakin besarnya tentangan itu, akhirnya pada 1898, Rasyid Ridha pindah ke Mesir mengikuti gurunya, Muhammad Abduh, yang telah lama tinggal di sana. 
Al-Manar adalah majalah mingguan yang diasuh oleh Ridha dan abduh. Antara lain, menyebarkan ide-ide pembaharuan dalam bidang agama, sosial, dan ekonomi, memajukan umat Islam dan menjernihkan ajaran Islam dari segala paham yang menyimpang, serta membangkitkan semangat persatuan umat Islam dalam menghadapi berbagai intervensi dari luar. Dalam perjalanannya majalah ini banyak mendapat sambutan, karena ide-ide pembaharuan yang dilontarkan dalam setiap tulisannya. 
Setelah menerbitkan majalah Al-Manar, Rasyid Ridha juga masih sangat aktif menulis dan mengarang berbagai buku dan kitab. Dia sempat mengajukan saran kepada gurunya agar menafsirkan kitab suci Alquran dengan penafsiran yang relevan dengan perkembangan zaman. Melalui kuliah tafsir yang rutin dilakukan di Universitas Al-Azhar, Rasyid Ridha selalu mencatat ide-ide pembaharuan yang muncul dalam kuliah yang diberikan Muhammad Abduh. Selanjutnya, catatan-catatan itu disusun secara sistematis dan diserahkan kepada sang guru untuk diperiksa kembali. Selesai diperiksa dan mendapat pengesahan, barulah tulisan itu diterbitkan dalam majalah Al-Manar. Kumpulan tulisan mengenai tafsir yang termuat dalam majalah Al-Manar inilah yang kemudian dibukukan menjadi tafsir Al-Manar. Pengajaran tafsir yang dilakukan Muhammad Abduh ini hanya sampai pada surah An-Nisa ayat 125, dan merupakan jilid ketiga dari seluruh Tafsir Al-Manar. Hal ini dikarenakan Muhammad Abduh telah dipanggil kehadirat Allah SWT pada 1905, sebelum menyelesaikan penafsiran seluruh isi Alquran. Maka, untuk melengkapi tafsir tersebut, Rasyid Ridha melanjutkan kajian tafsir sang guru hingga selesai. 
Karya-karya yang dihasilkan semasa hidup Rasyid Ridha pun cukup banyak. Antara lain, Tarikh Al-Ustadz Al-Imama Asy-Syaikh Abduh (Sejarah Hidup Imam Syaikh Muhammad Abduh), Nida Li Al-Jins Al-Latif (Panggilan terhadap Kaum Wanita), Al-Wahyu Muhammad (Wahyu Allah yang diturunkan kepada Muhammad SAW), Yusr Al-Islam wa Usul At-Tasyri Al-Am (Kemudahan Agama Islam dan dasar-dasar umum penetapan hukum Islam), Al-Khilafah wa Al-Imamah Al-Uzma (Kekhalifahan dan Imam-imam besar), Muhawarah Al-Muslih wa Al-Muqallid (dialog antara kaum pembaharu dan konservatif), Zikra Al-Maulid An-Nabawiy (Peringatan Kelahiran Nabi Muhammad saw),dan haquq al-mar’ah as-shalihah (hak-hak wanita muslimah). [6]


F. Murid-murid Muhammad ‘Abduh[7]
1. Qasim Amin 

Qasim Amin adalah seorang ahli hukum yang belajar di prancis dan mempunyai hubungan persahabatan yang erat dengan Muhammad Abduh, sehingga beliau di katakan murid dan pengikut Muhammad Abduh karena sempat bergaul dan belajar bersama. Di sini terdapat perbedaan antara guru dan murid, Muhammad Abduh masih terikat pada masa lampau dan memandang peradaban islam di zaman klasik sebagai contoh yang harus ditiru, sedangkan Qasim Amin telah mulai melepaskan diri dari ikatan masa lampau dan lebih banyak menoleh ke masa depan. Di sanalah terletak peradaban islam baru yang dasarnya berbeda dengan dasar peradaban islam klasik. Kalau Rasyid Rida tidak seliberal guru. Qasim Amin sebaliknya melampaui guru dalam keliberalan. Pemikiran Qasim Amin salah satunya ialah mengenai kedudukan wanita, ide inilah yang di kupas Qasim Amin dalam bukunya Tahrir Al-Mar’ah (”Emansipasi Wanita). Menurut pendapatnya, umat islam mundur karena kaum wanita, yang di mesir merupakan setengah dari pendududk , tidak pernah memperoleh pendidikan sekolah. Pendidikan wanita perlu, bukan hanya agar mereka dapat mengatur rumah tangga dengan baik, tetapi lebih dari itu untuk dapat memberikan didikan dasar bagi anak-anak. Ia menantang pilihan sepihak, yaitu dari pihak pria dalam soal perkawinan, menurut pendapatnya, wanita harus di beri hak yang sama dengan pria dalam memilih jodoh.
 Oleh karena itu ia menuntut supaya istri diberi hak cerai, sungguhpun poligami di sebut dalam Al-Qur’an ia berpendapat bahwa islam pada hakikatnya menganjurkan monogami. Ide Qasim Amin yang banyak menimbulkan reaksi di zamannya ialah pendapat bahwa penutupan wajah wanita dan pemisahan wanita dalam pergaulan bukanlah Ajaran Islam karna tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits. Menurut pendapatnyapenutupan wajah dan pemisahan wanita membawa kepada kedudukan rendah dan menghambat kebebasan dan pengembangan daya-daya mereka untuk mencapai kesempurnaan. Dari berbagai pihak berdatangan kritik dan protes terhadap ide-ide yang di kemukakan Qasim Amin itu sehingga ia melihat perlu memberi jawaban yang keluar dalam bentuk buku bernama Al-Mar’ah Al-Jadidah (”wanita modern”) dalam buku itu ia lebih kuat lagi mempertahankan kebebasan wanita. Barat memang telah mencapai peradaban yang tinggi, dan ini di dasarkan atas kemajuan ilmu pengetahuan. Peradaban yang didirikan umat islam di zaman klasik tidak di dasarkan atas ilmu pengetahuan yang telah berkembang, karena ilmu pengetahuan modern belum lahir di waktu itu. Menurutnya peradaban islam yang lampau itu tidak dapat lagi dipakai sebagai model, untuk kemajuan umat islam seharusnya jangan lagi menoleh ke belakang, tetapi ke depan dengan menempuh jalan yang telah di tempuh barat yaitu ilmu pengetahuan modern 

2. Muhammad Farid Wajdi 
Muhammad Farid Wajdi adalah seseorang yang banyak membaca dan banyak mengarang untuk membela islam terhadap serangan-serangan dari luar, salah satu bukunya bernama Al-Madaniah Wa Al-Islam (”peradaban modern dan islam”) dan di dalamnya ia menjelaskan bahwa orang barat menilai islam dari praktek-praktek umat islam yang berada di bawah kekuasan mereka. Dalam buku itu ia mencoba menjelaskan islam yang senenarya, islam yang tidak bertentangan dengan peradaban modern. Menurut pendapatnya ”tidak satu pun dari dasar-dasar dan teori-teori ilmiah yang membawa kepada kemajuan umat manusia seperti, trdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits sendiri”, kenyataan ini menjadi argumen kuat untuk membuktikan kebenaran islam. Dan ia juga brpendapat bahwa islam sejati adalah yang sesuai dengan peradaban. Farid Wajli juga mengarang ensiklopedia yang bernama ”Dairah Al-Ma’arif Al-Qur’an Al-Isyrin dan tersusun dari sepuluh jilid. Menurut keterangan buku itu ia karang tanpa bantuan orang lain. Ensiklopedi ini banyak mengandung ide-ide modern.

3. Syaikh Tantawi Jauhari 
Syaikh Tantawi Jauhari adalah Murid Muhammad Abduh yang menonojolkan ajarannya tentang Sunatullah. Guru banyak menyebutkn Sunatullah yang tidak berubah-ubah, hukum alam yang diciptkan tuhan dan yang harus di patuhi alam dalam peredarannya. Oleh karena itu Syaikh Tantawi Jauhari banyak menulis tentang ilmu bintang dan ilmu alam dalam buku-buku Al-Jaj Al- Murassa ’bi Jawahir Al-Qur’an Al ulum (”mahkota yang dihiasi dengan permata-mata Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan”) Jamal al-’lam (”keindahan alam”), dan Al-Nizam Wa al-’alam (”peraturan dan alam”). 

4. Ahmad Lutfi Al-Sayyid 

Seperti Muhammad Abduh dan Sa’ad Zaqlul, ia berasal dari daerah pedesaan Mesir tetapi setelah memasuki Madrasah tradisional pindah ke kairo untuk belajar pada sekolah Modern. Pada tahun 1889 ia meneruskan pelajaran pada Perguruan Tinggi Hukum. Di Kairo ia masuk ke dalam lingkungan teman dan murid Muhammad Abduh, ia banyak membaca buku karangan filosof-filosof barat. Ide-ide Lutfi Sayyid ialah tentang ide kemerdekaan dan kebebasan. Kebebasannya ialah dalam berfikir dan kemerdekaan dalam hidup kemasyarakatan dari ikatan-ikatan politik yang berlebih-lebihan. Negara yang menjadi idamannya ialah Negara yang bercorak Liberal, sedangkan Negara yang menjadi pimpinan oleh seorang rasa yang Absolut ia tantang, karena menurut pendapatnya kemerdekaan individu erat hubungannya dengan kemerdekaan Negara. Lutfi Sayyid juga menganut paham Nasionalisme, dan Nasionalismenya ialah Nasionalisme Mesir. 

5. Taha Husain

Taha Husain berasal dari keluarga petani yang dimasa kecilnya mendapat penyakit yang membuat ia kehilangan penglihatannya. Setelah lulus dari madrasah ia melanjutkan pelajarannya di Al-Azhar. Di sinilah ia bertemu dengan ide-ide Muhammad Abduh dan murid-muridnya, terutama Lutfi Sayyid. Selanjutnya ia belajar bahasa prancis, mengikuti kuliah di Universita Kairo dan kemudian pergi ke Paris. Di sana ia belajar selama empat tahun dan kawin dengan putri prancis. Setelah itu pada tahun 1919 ia kembali ke Kairoh dan bekerja sebagai Dosen di Universitas Kairoh dan Universitas Alexandria. Ia banyak mengarang terutama bidang Sastra Arab. Ia berpendapat bahwa sebagian besar dari Sastra Arab Jahiliah. Taha Husain mendapat tantangan keras dan kritik, karenaide itu menghancurkan dasar keyakinan pada keorisinilan syair jahiliah. Ia ingin supaya Mesir maju dan modernseperti Eropa. Ia berpendapat bahwa untuk itu Mesir mesti mengikuti jejak Eropa. Taha Husain juga menganut Paham Nasionalisne Mesir, ia beserta murid-murid Muhammad Abduh lainnya tidak melepaskan diri dari ikatan Agama. 

6. Ali Abd Al-Raziq 

Ali Abd Al-Rariq adalah putra dari seorang sahabat Muhammah Abduh tetapikarena masih kecil ia tidak sempat menjadi muridnya, setelah selesai dari Al-Azhar ia meneruskan studi di Oxford. Persoalan di zaman Ali Abd Al-Raziq ialah tentang khalifah yang telah di hapuskan Mustafa Kamal pada tahun 1924. Dan persoalan ini menimbulkan kehebohan di dunia islam, karena mereka menganggap sistem Khalifah merupakn ajaran daar dan penghapusannya bertentangan dengan Ilam. Ali Abd Al-Raziq berpendapat lain yang ia jelaskan dalam buku ”Al-Islam Wa Al-Hukm” (islam dan ketatanegaraan), menurut pendapatnya sistem pmerintahan tidak di singgung-singgung oleh Al-Qur’an dan Hadits. Pendapat liberal yang dikemukakan oleh Ali Abd Al-Raziq ini mendapat kritik dan tantangan kerasdari berbagai golongan umat islam yang ada pada aktu itu, termasuk Rasyid Rida seoang murid terdekat Muhamamad Abduh yang mana beliau mempertahankan sistem khalifah dan memandang pendapat Ali Abd Al-Raziq itu akan memperlemah umat islam, selain itu juga Ali Abd Al-Raziq mendapat tantangan keras yang datang dari Al-Azhar, mereka menganggap buku itu mengandung pendapat yang bertentangan denagn ajaran islam. Sehingga Ali Abd Al-Raziq tidak dapat di akui sebagai seorang ulama, dan namanya dihapus dari daftar Al-Azhar, selanjutnya ia di pecat pula dari jabatan hakim agama yang dipegangnya. Syaikh ‘Ali Abdu Roziq, seorang murid ‘Abduh ketika pada tahun1925 menerbitkan sebuah buku yang menganjurkan penghapusan jabatan khalifah dan dipisahkannya persoalan-persoalan kemasyarakatan dari aturan-aturan agama, dia dipersalahkan sebagai orang yang melanggar ajaran Islam otdodoks berdasarkan keputusan bulat yang diambil oleh Dewan ‘Ulama Al-Azhar, dipecat dari jabatannya sebagai dosen Al-Azhar dan dinyatakan tidak berhak memangu jabatan keagamaan apapun. Pada tahun 1930, seorang Syaikh lainnya yaitu Muhammad Abu Zaid menerbitkan sebuah kitab al-Qur’an dengan dibubuhi anotasi-anotasi, yang isinya mengkritik kitab-kitab tafsir al-Qur’an lama dan menafsirkan ayat-ayat tentang alam adi-kodrati(superanatural) dengan cara-cara naturalis sederhana. Walaupun tujuan diterbitkannya kitab itu adalah mendorong generasi muda agar mereka mau mempelajari al-Qur’an, kitab itu disita polisi dan sebuah surat perintah dikeluarkan berisi larangan kepada penulisnya untuk menjadi khatib (muballigh) atau menyelenggarakan pertemuan-pertemuan keagamaan. 

7. Sa’ad Zaglul

Sa’ad Zaglul seorang yang dikenal dengan Bapak kemewrdekaan Mesir. Ia adlah sama dengan Muhammad Abduh, beraal dari lingkungan desa yang belum kenal pada Sekolah Modern. Pendidikan pertamanya di Madraah tradisional dan pada tahun 1871 ia melanjutkan pelajarannya di Al-Azhar dan menjadi murid jamaludin Al-Afgani dan Muhammad Abduh, bahkan ia turut serta dan pernah ditangkap bersama gurunya pada waktu menjalankan kegitan politik. Sa’ad Zaglul pernah bekerja sebagai Pengacara dan Hakim. Maka untuk memperdalam pengetahuannya tentang Hukum Barat ia memasuki ”Perguruan Tinggi Hukum Prancis” di Kairo, namanya mulai di kenal pada tahun 1896, ia kawin dengan Putri Perdana Menteri yang ada pada waktu itu. Tujuan politik Sa’ad Zaglul ialah mewujudkan ide gurunya, yaitu membatai kekuasaan otokrasi khedewi (sultan) Mesir dan melepaskan Mesir dari kekuaaan Inggris. Sasaran politik utama Sa’ad Zaglul bukan lagi pemerintahan khedewi, tetapi kekuaan Inggris di Mesir. Tujuan utamanya ialah kemardekaan Mesir. Dan pada tahun 1922 Mesir memperoleh kemerdekaannya. Paham Nasionalisme Sa’ad Zaglul sesuai dengan pendapat Al-Tahtawi dan Muhammad Abduh, mengambil tanah air sebagai dasar, yang di perjuangkan ialh Nasionalisme Mesir dan bukan Nasionalisme Arab. Untuk kemajuan Mesir, pembaharuan dalam pendidikan dan bidang Hukum perlu diadakan. Pendidikan Mesti terbuka bagi semua orang, termasuk fakir miskin, jumlah sekolah ia perbanyak, dan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar secara berangsur ia tukar dengan Bahasa Arab. Dalam Bidang Politik ia dirikan ”Perguruan Tinggi Hakim Agama”. Tujuannya untu memberikan pendidikan Modern bagi calon-calon Hakim Agama. Sebagaimana gurunya, ia juga menentang pemerintahan Absolut dan ia menghendaki pemerintahan Demokrasi, yang harus beruasaha mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat, baik Islam maupun non Islam. 






























BAB lll
PENUTUP


KESIMPULAN     

Awal mula Pembaharuan Mesir terjadi sejak kontak dengan Eropa yang dimulai dari datangnya ekspedisi Napoleon Bonaparte yang mendarat di Aleksandria pada tahun 1798 M. diman pada saat itu napoleon Bonaparte dapat menguasai seluruh wilayah mesir.
Dan dari situlah mincul tokoh-tokoh pembaharuan islam di mesir seperti : Muhammad ali pasha, al-tahtawi, Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dan murid-murid Muhammad abduh dengan berbagai pemikiran-pemeriran mereka yang telah di jelaskan di pembahasan di atas.



















BAB 1V
DAFTAR PUSTAKA

Nasution,harun.1975.Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan.Jakarta: PT.Bulan Bintang.
Wibowo,faisal,2013.pembaharuan di mesir.di ambil dari http://faisal-wibowo.blogspot.co.id/2013/01/pembaruan-di-mesir.html. (08 mei 2017)






















[1] Harun nasution,pembaharuan dalam islam,(Jakarta) hlm.28.
[2] Faisal wibowo “pembaharuan di mesir”,di akses dari http://faisal-wibowo.blogspot.co.id/2013/01/pembaruan-di-mesir.html. Pada 08 mei 2017.

[4] Harun nasution, op.cit hal 51
[5] Ibid. hal 58
[6] Ibid. hal 69.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tokoh Pembaharuan Mesir

BAB 1 PEBDAHULUAN 1.       LATAR BRLAKANG Islam mengalami puncak kejayaan di berbagai bidang dan menjadi kiblat peradaban seant...